Pelampiasan.

by Putri Wakhdani
0 comment

 


Ada suatu saat dimana aku terlalu buta dengan semua perhatianmu. Tuli dengan perasaanku sendiri. Aku terlalu senang hingga terbuai pada segala tutur katamu yang membuatku tampak seperti orang paling bahagia di dunia ini. Semua tampak seperti merah muda dimataku. Bukankah merah muda melambangkan warna kasih sayang? Mungkin itu makna tersirat dari semua ini. Yap, aku fikir aku jatuh cinta padamu.

Kini, aku baru sadar, semua itu hanya ilusi.
Mencintaimu bagiku adalah hal yang paling baru di dunia ini. Bagaimana tidak? Untuk pertama kalinya aku merasa nyaman tak berkesudahan. Keberadaanmu selalu menjadikanku tak sendiri. Dimanapun aku butuh kamu, kau selalu siap siaga. Begitu aku memanggilmu, kau langsung muncul dihadapanku dengan senyuman khasmu yang tak pernah ku lupa. Kau selalu ada disaat penat mendominasi pikiran ini. Kamu… Ya kamu, telah menjadi pengganti dari penatku ini– menjadi dominasi dalam pikiran. Saat itu, aku bahagia. Namun jika kau mendominasi pikiranku saat ini, aku tak sanggup.
Roda seakan berputar dengan cepat. Menggilas semua kenangan manis kita berdua. Menoreh luka demi luka baru. Saat luka lamaku mulai terbalut dengan perban dengan baik, hampir saja hilang bekasnya, kau menjadi orang yang kembali menorehkan luka. Luka dalam yang bahkan saat ini belum aku obati, sedikitpun. Disini, aku masih menikmati torehan luka yang kau berikan padaku. Luka dari benda yang tak dapat kulihat dengan mata telanjang, yang menancap bagai belati tepat di ulu hati.
Karena tak lama setelah hatiku kau lambungkan sangat tinggi, aku tahu bahwa aku bukanlah yang kau cari. Dan kini kusadari, bahwa aku hanya jatuh, tanpa kata cinta dibelakangnya.
Betapa terpuruknya aku ketika melihat momen kebersamaanmu dengannya. Pada situasi ini, aku semakin menikmati luka itu. Semakin menancap kedalam dan merobek jiwaku satu persatu. Aku tetap berusaha teguh karena hanya akal yang sudah tak sehat lagi ini yang tersisa.
Ketika aku hampir hancur berantakan, mukjizat itu datang kepadaku. Akal ku mulai bekerja dengan optimal.
Aku hanya ingin mengatakannya padamu. Tolong jangan sakiti hatiku. Jangan tambah lukaku yang sudah mulai kembali ini dengan perhatianmu, karena itu hanya akan menyesakkanku. Aku tahu ini semua bukan karenaku. Tapi, karenanya. Dia, orang yang mendominasi pikiranmu. Dialah wanita yang selalu kau jadikan prioritas setelah ibumu, dia yang selalu membuat jantungmu berdegup tak karuan sejak pertemuan pertama, dialah wanitamu. Kesempurnaan itu hanya ada padanya. Kulit putih, badan bersih, tinggi semampai, semua kriteriamu ada pada dirinya. Aku disini yang hanya menawarkan kebahagiaan bisa apa.
Sekali lagi, tolong jangan sakiti hatiku. Karna kini aku tahu, aku hanyalah pelampiasanmu.

You may also like

Leave a Comment