Catatan Tentang Jarak dan Rindu

by Putri Wakhdani
0 comment
Ternyata, rindu bisa terasa lebih mencekam daripada biasanya.

Diawali dengan hati yang sungguh tampak seperti batu. Tak punya rasa, tapi tidak putus asa juga. Hanya dipenuhi oleh ambisi diri, juga keyakinan akan menuju puncak kesuksesan. Aku kira, selama ini hanya seperti itu rasanya. Berbincang hingga meluapkan senda gurau tanpa arti, pulang hanya bawa rasa sedih karna lelah akan hari. Sudah kesana, sudah kesini, tapi hati tetap maunya ini. Lalu pada akhirnya, aku mencoba pergi.
Sebelum aku pergi, ternyata aku bertemu kamu. Yang tiba – tiba datang membantu, dan menjadi tempat bicara yang baik. Lalu tiba – tiba kamu hadir, hilangkan sedikit hitam dan putih hidup, dan membangunkanku yang sudah setengah terlungkup. Aku, yang menjalani hidup sendiri, kini kedatangan tamu. Yang datang hangat tanpa membuatku merasa tersengat, yang mendekap layaknya kawan akrab. Kamu, akhirnya buatku punya sedikit rasa yang dahulu sekali pernah ada, mendatangkan sebuah kenyamanan hingga membuatku tak pernah berpikir “akan begini sampai kapan?”. 
Beberapa hari sebelum aku pergi, aku memikirkanmu tiada henti. Bagaimana nanti kamu tanpa– salah– bagaimana nanti aku tanpa kamu. Apa yang akan aku lakukan saat bangun pagi, atau siang, sore, dan malam hari nanti. Apa jadinya jika itu dan ini terjadi, semua membuatku membatin dan perlahan namun pasti, air mata ini menetes tak terkendali. Dan di pagi itu, seperti semesta mendukungku, awan abu muncul tanpa malu. Mendukung rasa sedihku yang akan berpisah denganmu dalam beberapa waktu. Entah apa yang ada dalam benakku, tapi satu yang kutahu, bahwa aku tak mau berpisah denganmu walau hanya se-lalu. 
Pada akhirnya, kita berada di dua benua berbeda. Dengan bentang ratusan ribu kilometer dan beberapa jam perbedaan. Di hari pertama, kedua, ketiga, semua tampak biasa. Kita berkomunikasi layaknya tak ada jarak. Mengobrol tanpa ingat waktu, sama – sama saling mengerti perbedaan, dan bersikap adil satu sama lain. Hari demi hari berlalu, mungkin dia ataupun aku sudah mulai lelah, dan sekali tak bisa menahan amarah. Jarak ini sangat membuatku jengah. Hari – hari lain berlalu, mengapa hanya rindu menggugu? Mengapa jarak semakin membentang hinga kami merasa sangat tertantang? Namun kami bisa apa? hanya coba sekali dua untuk bertukar sapa. Bahkan tiga puluh menit percakapan tak dapat  membayar lunas semua. Dan aku… setiap harinya hanya dapat berdoa bahwa semoga kita akan selalu baik – baik saja. 
Aku tak pernah tahu, bahwa ruang waktu bisa menikam layaknya peluru. Aku tak pernah tahu, bahwa rindu bisa lebih buat haru dari mendapat gelar baru.
Sampai bertemu dengan hati dan rasa yang berbeda. Semoga rindu ini bisa buat syukur lebih sering dipanjatkan atas hasil sebuah penantian. 

You may also like

Leave a Comment